Cinta Yang Lain
Aku berdiri di atas panggung kecil, memetik gitar seperti biasa, mencoba menenggelamkan diri dalam melodi.
Lalu mataku menangkap sosok itu.
Ayla.
Ia duduk di sudut kafe dekat jendela, sendirian. Gaun krem sederhana membalut tubuhnya dengan anggun tanpa berusaha mencuri perhatian. Rambut panjangnya tergerai, sebagian tampak lembap karena rintik hujan yang sempat mengenainya sebelum masuk. Wajahnya cantik—bukan jenis cantik yang langsung menyilaukan mata seperti lampu panggung, tapi cantik yang tenang. Jenis kecantikan yang membuatmu ingin menatapnya sekali lagi… lalu sekali lagi… dan tanpa sadar kamu sudah terjebak di sana.