MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI
Perutnya terasa melilit, rasa sakit akibat logam kunci yang tertelan itu kini bukan lagi sekadar rasa tidak nyaman, melainkan seperti bara api yang mengiris lambungnya dari dalam.
"Tahan, Nan. Sebentar lagi kita sampai," suara Aditya terdengar di samping telinganya. Tangannya yang kasar memegang jemari Kinan dengan erat.
Kinan menoleh, menatap wajah Aditya yang tampak kabur di bawah lampu-lampu yang melesat. "Adit... kalau aku nggak bangun... jaga Bumi. Janji... jangan biarkan dia jadi seperti... kita."