Aku Bukanlah Prioritasmu
Suaranya sangat pelan, tapi matanya terpaku pada tisu di bawah pensilku.
“Permisi…. kamu yang menggambar ini?”
Aku tersentak dan segera membalik kertas itu, ekspresiku tampak gelisah, “Hanya iseng saja.”
Namun, dia tersenyum hangat, jelas-jelas terlihat bersemangat.
“Bukan, ini bukan sekedar iseng.”
Ujarnya dengan yakin.
“Caramu membangun cahaya, bayangan dan emosi, ini hanya bisa kulihat di sketsa para ahli perhiasan. Ada jiwa di dalamnya!”