Hasrat Liar Suamiku
Ia berucap dengan tegas.
Ia terdiam sejenak, mengambil napas.
“Aku sayang kamu, Sya. Sebagaimana seorang kakak yang menyayangi adiknya, meskipun kita tidak terlahir dari rahim yang sama. Aku sakit melihat kamu seperti ini, ayo bangkit. Cukup menangisi kematian Bara. Aku paham kehilangan orang yang disayang itu menyakitkan, tapi kau tidak bisa terus seperti ini.” Ia membingkai wajahku dengan kedua tangannya. Mengusap pipiku dengan ibu jarinya.