Hati Yang Terpilih
cicit Bapak.
“Maaf, Pak, Bu,” kata Nazwa dan Kafka bersamaan.
“Kamu duduk dulu, Nduk!” perintah Ibu seraya menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Nazwa duduk.
“Bapak tidak mengerti, mengapa persoalan perasaan ini menjadi rumit seperti ini.” Bapak menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nazwa, kamu adalah tokoh sentral dalam masalah ini. Tiga laki-laki yang ada di sini sekarang sedang mengharapkan cintamu. Dan mau tidak mau, kamu harus memilih di antara mereka bertiga. Bapak tidak mau ada fitnah di antara kalian, karena status yang tidak jelas!” sambung Bapak lagi dengan nada menekan.