Satu Malam Untuk Selamanya
Maka itulah alasan keberadaan kami di kelab malam ini.
“Eh, jumat depan kan tanggal merah tuh, ada yang mau balik ke Jekardah nggak sih?” Widi menyeletuk di sela-sela sesapan mocktail-nya lalu memandangi kami satu per satu.
“Gue nggak,” jawab Hani.
“Gue juga nggak.” David menimpali.
“Lo, La?” Widi menatapku.
“Nggak,” jawabku singkat. Sampai kapan pun jawabanku nggak akan berubah. Aku nggak akan pernah kembali ke tempat yang memberiku luka.