Menginjak usia pernikahan tahun ketiga, aku mulai menyadari bahwa harapan seorang istri terhadap suaminya seringkali lebih dalam dari sekadar materi. Kami mendambakan partner yang secara emosional hadir – seseorang yang benar-benar mendengarkan keluh kesah setelah hari yang melelahkan, tanpa selalu langsung memberi solusi. Ada keindahan dalam kebersamaan yang sederhana, seperti ketika suamiku tiba-tiba mengingat cerita lama yang pernah kubagi dan menanyakan kelanjutannya.
Di sisi lain, kami juga mengharapkan konsistensi dalam komitmen kecil sehari-hari. Bukan tentang hadiah mewah, tapi lebih pada bagaimana dia tetap menyiapkan kopi pagi meski sedang buruk mood-nya, atau tanpa diminta mengambil alih tugas mengantar anak ketika tahu aku sedang deadline kerjaan. Hal-hal kecil yang menunjukkan bahwa pernikahan adalah tim seumur hidup, bukan kontrak temporer.
Yang menarik, banyak teman-teman perempuanku justru lebih menghargai suami yang terus belajar memahami bahasa cinta mereka daripada yang selalu memberi hadiah mahal. Seperti kata pepatah Jawa 'Ojo ngomong 'aku tresno', nanging ojo nganti lali tresno' – jangan hanya bilang 'aku cinta', tapi jangan sampai lupa mencintai.