Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu
Senyum tipis terukir di bibirnya.
“Selamat datang, Say .…” Ia berhenti sejenak, lalu terkekeh pelan. “Ups, hampir lupa. Sekarang aku ini ibumu, Reino,” ujarnya sinis. “Sekaligus mertuamu, Vania. Bukankah begitu, anak-anakku?”
Nada cibirannya membuat udara terasa menyesakkan.
Vania mengepalkan tangannya erat-erat. Rahangnya mengeras sebelum akhirnya ia tersenyum—senyum licik yang sarat kebencian.