Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda
Aku memulainya dengan sedikit canda, berharap Nola yang di sana tidak ngambek lagi.
"Tidak lucu! Kamu di mana?"
Suara ketusnya masih sangat kuat rupanya. "Di sini, di tempat yang tinggi." Aku tetap menanggapinya dengan canda.
"O, begitu? Apa karena disanjung perempuan Melayu itu, lalu kamu merasa sudah tumbuh sayap, dan sekarang mulai terbang tinggi, begitu?"
"O tidak-tidak, aku tidak pernah bermimpi setinggi itu. Dia terlalu tinggi, lebih tinggi dari mimpi itu sendiri. Sungguh, aku tidak akan pernah berani."