PEMBALASAN DEWA MAUT
geram Dipasena, matanya menyala merah.
“Kenapa? Sakit, ya? Malu, ya?” cibir Rembong. “Kamu hanya bisa melihat, tidak bisa berbuat apa-apa. Bocah lemah yang bisanya hanya menangis ketika ayahnya dibantai. Itu kau, Dipasena. Jauh di dalam sana, kau masih bocah itu.”
"Aku bukan lagi dia."
“Oh ya? Buktinya, kau masih marah kalau diingatkan,” sahut Rembong enteng. “Baiklan, kalau tidak suka yang itu. Bagaimana kalau kita putar adegan yang lebih… romantis?”
Hot Chapters