NODA
Memastikan apa yang aku dengar, angin yang bertiup kencang membuatku bisa saja salah.
Dia melangkah maju ke arahku lalu tangannya terulur meraih tanganku. Menggenggamnya erat. Aku termangu dan terus menatap lelaki yang mengajarkan aku banyak hal terutama tentang arti keadilan, keadilan yang harus ditegakkan, keadilan tidak memandang siapa saja, karena saat keadilan tidak ditegakkan maka akan ada banyak orang yang terluka, dan ketika orang yang terluka itu menangis di atas sajadahnya maka percayalah pengadilan Tuhan lebih menakutkan.
"Apa yang aku inginkan adalah kamu, Ren," ulangnya pelan, tatapannya semakin dalam dan penuh makna. Sedangkan aku hanya ingin tertawa.