Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Tingkat Dua

Tingkat Dua

Better an oops than a what if **** Jangan pernah menunggu karena tidak akan pernah ada waktu yang tepat adalah salah satu quotes yang selalu aku gunakan ketika sedang merasa ragu untuk melakukan sesuatu. Seperti saat ini contohnya. Apakah aku yang harusnya memulai percakapan? Atau membiarkan kecanggungan karena diantara kami tidak ada yang mengawali pembicaraan? "Sori ya, Bang. Jadi ngerepotin." Tiba-tiba gadis kecil yang berdiri di depanku ini memulai pembicaraan tanpa menatap ke arahku.
1.4K viewsOngoingAdded to Library 28 Times as insecurity quotes
Read
+Library
LOVELY MAN

LOVELY MAN

"Ya! Apa?! Yang aku bilang benar kan?!" "Kamu selalu insecure sama diri kamu sendiri! Kamu selalu merasa nggak aman, kamu malu mengakui kalau latar belakang kamu emang nggak jelas!" Mata Bhara membelalak. "Gitu?"
109.2K viewsCompletedAdded to Library 212 Times as insecurity quotes
Read
+Library
Mencintai Seorang Climber

Mencintai Seorang Climber

“Kejahatan itu tidak mengenal hari libur, Mbak. Di setiap saat, di setiap tempat, kejahatan mengintai. Bahkan di tempat yang menurut kita adalah paling aman di dunia, kadang ada juga kejahatan.” “Maksudmu di masjid?” “Wah, kalau kejahatan di masjid mah nggak aneh, Mbak. Sandal dan sepatu paling banyak hilang di masjid. Belum lagi isi kencleng yang bisa bikin ngiler orang-orang kurang iman, dan kurang duit.” “Jadi menurutmu, di mana tempat paling aman di dunia?” “Di mana ya? Nggak ada kayaknya.”
3.1K viewsOngoingAdded to Library 108 Times as insecurity quotes
Read
+Library

Frequently Asked Questions

Monolog tentang insecure bisa jadi sangat powerful jika diangkat dari sudut pandang seseorang yang selalu merasa 'kurang' di media sosial. Bayangkan seorang karakter yang terus membandingkan hidupnya dengan highlight reel orang lain, sampai akhirnya menyadari bahwa semua itu hanyalah ilusi.

Drama internalnya bisa dimulai dari obsesi terhadap likes dan komentar, lalu berkembang menjadi ketakutan akan penolakan di dunia nyata. Bagian paling menarik adalah momen ketika karakter tersebut menemukan celah di balik filter Instagram—misalnya, melihat seorang influencer yang tampak sempurna ternyata juga mengalami breakdown di belakang layar. Monolog ini bisa ditutup dengan pertanyaan retoris: 'Kalau semua orang sibuk berpura-pura, lalu siapa yang benar-benar bahagia?'

SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status