DOSA TERINDAH
Tapi lagi-lagi, bayangan kamar bernuansa cokelat dengan tempat tidur king size itu melintas di kepala.
“Van.”
“Panggil apa?”
“Sayang.”
“Hmm, kenapa, Sayang?” Dia masih menyusuri leherku.
“Di kamar kamu, please!”
Dia mengembuskan napas kasar. Matanya meredup.
“Ya udah, buruan, ya.”
Aku mengangguk.
Ivan berkali-kali menepikan mobilnya dalam perjalanan. Saat kutanya kenapa dia berhenti, dengan gamblang dia mengatakan sedang membayangkanku yang sudah hampir polos di kamarku tadi.