Ibu Mertuaku Penuh Drama
“Jajan??? Jajan apa? Mana ada jajan di sana, Bapak nggak usah terlalu membela mereka, karena tidak ada bukti kalau mereka ke sini itu lagi banyak uang.”
Aku yang mendengar bahasa ibu rasa-rasanya ingin sekali mencakar wajahnya. Kesal sekali, namun hanya bisa mengutuk diri dalam hati saja tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Lho ada tadi, Bu. ada kripik singkong, kripik kentang, macam-macam kacang dalam kemasan lengkap semua, belum roti sama biskuit kayaknya lebih dari sepuluh bungkus itu.” Bapak, aku dan Mas Didik turut memeriksa meja ruang tamu.