Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU

PEMUDA YANG KUBAYAR ITU, CINTA TERLARANGKU

"Bedanya tipis." "Raiden!" Pria itu akhirnya tertawa lepas. Suara tawanya memenuhi ruangan kecil itu. Dan entah mengapa, melihat Raiden tertawa seperti itu membuat Jasmine ikut tersenyum. Sudah lama sekali ia tidak melakukan hal sesederhana ini. Tidak ada tuntutan. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada tekanan. Hanya tertawa karena hal bodoh.
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 82 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Sentuhan Pria Dewasa

Sentuhan Pria Dewasa

“Jangan lucu gitu Na, gue gak tahan” Narine menatap balik tanpa gentar. “Gak tahan apa pak, jangan bercanda deh.” Suasana di antara mereka kental. Bunyi detak jam dinding terdengar begitu jelas. Di luar, hujan mulai turun, menetes lembut di kaca jendela, menambah gemuruh dalam kepala mereka berdua.
1056.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.2K kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Aku ,Target balas dendam CEO

Aku ,Target balas dendam CEO

Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari hujan di luar masih turun perlahan, Aruna menatap jendela ruang jaga cukup lamaalu menghela napas pelan. “Setidaknya aku masih bisa tertawa meski sebentar.” Nina menepuk pundaknya lembut. “Besok pasti panjang lagi ,tapi malam ini kita berhasil lewat satu kekacauan dulu.” Aruna menoleh padanya lalu tersenyum kecil ,senyum yang kali ini terlihat tulus.
10643 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 25 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Kultivator Jiwa Modern

Kultivator Jiwa Modern

KRAK… KRAK… seperti tulang patah di dalam dinding. Risa menggigit bibir. “Jangan-jangan… dinding ini hidup?” Gerry langsung mundur tiga langkah. “Jangan begitu! Tolong jangan begitu!” Kael menengok. “Kalau dinding hidup, kenapa tidak langsung menelan kau dulu saja?” “Jangan bercanda begitu!” teriak Gerry panik. Tiba-tiba lantai di depan mereka bergerak sedikit.
1.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 51 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
From Your Eyes Only

From Your Eyes Only

Kata papa “ Nggak Pa… tetap harus, karena dinding kamar kami memang tipis, takutnya Bu Sri yang tetangga sebelah kiri yang berbatasan langsung dengan kamar kami, bisa mendengar juga Jadi lebih aman di renovasi total dan ditebalin temboknya.” Aku bersikeras Papa menahan tawa. “Hahaha. Ya sudah, nanti kita tebelin sekalian dindingnya dan pasang peredam, supaya kalian bisa jerit sepuasnya.”
106.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 266 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Tampilkan Ulasan (34)
Baca
+Pustaka
Kania Putri
marah kecewa pasti ada ini tapi aq yakin laras bukan tipe cewe pendendam dia dapt memutuskan sesuatu dengan kepala dingin & bukan dengan emosi sesaat. aq yakin sih laras akan memaafkanmu. ya ampun deg2an ini menanti julio berkata jujur pada laras
~•°Putri Nurril°•~
bener² dapat kejutan banget di bab minggu ini. dan setiap permasalahan yang ada pasti ada solusi. novel ini mengajarkan tentang kehidupan yang tak selamanya di atas/ di bawah. ceritanya pun ngeh banget di hati. thanks Ci Net, udah bikin cerita yang luar biasa
Baca Semua Ulasan
Duda dan Janda Bertetangga

Duda dan Janda Bertetangga

Anak perempuan itu terlihat sangat lega, setelah akhirnya ia bisa masuk kembali ke dalam apartemennya. "Ok, Gea. Kalau begitu tante tinggal dulu ya," pamit Kintan setelah memastikan Gea masuk. "Tante, tunggu!" seru Gea. Kintan pun membalikkan badannya dan menatap Gea. "Ada apa?" "Hmm... tante bisa masuk dulu, nggak? Lihat ke kamarku, biar tahu gimana kondisi dindingnya?" "Memangnya muralnya mau dikerjakan sekarang?" tanya Kintan kaget.
1096.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 3.5K kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
First Love

First Love

"Aku masih belum terbiasa jadi maaf kalau aku suka jutek atau menghindar atau galak." Ibu jari pria itu menghapus setetes air mata yang lolos dari sudut matanya. "Iya, kita sama-sama belajar ya." Ditengah keheningan yang mengharukan, tiba-tiba terdengar suara yang memecahkan keheningan itu. Suara perut Joy membuat tatapan mereka bertemu dan sontak, keduanya tertawa. "Anjir, lagi serius-serius segala bunyi perut aku."
9.612.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 291 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
JERAT PESUGIHAN

JERAT PESUGIHAN

tantang ku kata-kata jangan suara wanita tertawa melengking. Suara tawa ini sama seperti suara kuntil*nak yang sering terdengar di sebuah film. Dada aku baru gemuruh cepat, membuat keringat mulai membanjiri wajahku.
1.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 63 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

"Apa kau benar-benar percaya semua ocehanku tadi? Jangan terlalu serius, kawan!" "Aku mempercayaimu, gundulmu!" bentak Jadin. Topeng ketenangannya pecah seketika. Wajahnya berubah gelap, otot di keningnya menonjol, dan giginya beradu hingga terdengar bunyi kertakan yang mengerikan. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh lelucon yang tak lucu.
101.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 30 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Jagad dan Selaras

Jagad dan Selaras

Mereka tampak sangat kompetitif, tapi tertawa lepas setiap kali ada yang gagal memasukkan bola. Setelah acara selesai, Jagad mengajak Jihan jalan-jalan ke pinggir lapangan, tempat ada sebuah tembok yang baru saja selesai dicat mural oleh anak-anak. Di sana tertulis: *RESONANSI: Suara Kami, Detak Kami.* "Gue udah mutusin, Gad," kata Jihan pelan. Jagad berhenti berjalan. Dia menatap tembok itu, nggak berani menatap Jihan. "Kapan lo berangkat?"
887 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 23 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
45678
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status