Pembantu Rasa Nyonya
“Benar kata Mamamu, Wis. Mengapa kita harus peduli dengan omongan dan pikiran orang lain? Bukankan kita juga tidak bisa menyukai semua orang? Begitu juga sebaliknya. Kita tidak bisa memaksa orang lain mengerti apa yang kita lakukan. Iya, kan Ran?”
“Hu-um. Asal, tidak merugikan atau menyakiti orang lain. Selebihnya, lakukan yang seharusnya kamu lakukan. Jangan pikirkan Mama. Telinga Mama sudah kebal. Kok yang membicarakan di belakang, mereka mencemooh di depan saja Mama hadapi, kok,” ucap Mama seakan memaksaku untuk menerima tawaran Papi.
“Tapi, Ma__”
“Tidak usah tapi-tapian. Abaikan hal yang tidak penting. Pokoknya kamu harus melejit dan bungkam omongan orang dengan keberhasilanmu. Itu leb