Mahar Kedua
Sepertinya ada sesuatu yang inginn Bu Liyah katakan padaku.
"Mbak Hanna, em ...." Aku mengernyitkan dahi. Dugaanku benar, Bu liyah memang ingin mengatakan suatu hal padaku.
"Maaf sebelumnya, Mbak Hanna, apa Mbak bersedia menikah dengan putra saya menjadi istri kedua?" Aku tersenntak, mendengar pertanyaan tersebut. Baru saja aku menepis impianku bersanding dengan Pak Asyraf, tapi pertanyaan ini membuatku merasa senang sekaligus kecewa. Aku senang akan menjadi istri lelaki yang pernah kukagumi, tapi kecewa karena menjadi yang kedua. Ingin rasanya menanyakan alasan mengapa mencari istri kedua, tapi kuurungkan karena ragu untuk memulai bertanya.
Sikat na Kabanata