Aku, istri kedua
Fida Yaumil Fitri kering sudah air matakusampai dirumah aku menangispuisi rumahkuabang jarang pulang aku jarang dibelai
“Sabar, Nduk!”
Ucapan ibu itu kembali menguatkan, ia seakan mengerti apa yang aku rasakan, jeritan hatiku mungkin tak seberapa dibandingkan pengorbanan Mbak Zahra.
“Istri kedua itu bukan berarti merusak pernikahan yang sebelumnya, apalagi sudah mendapatkan ijin istri pertama!”
“Tapi, Bu-!”
Ibu menyenderkan kepalaku di pundaknya, aku menangis sejadinya, meluapkan emosiku yang dari tadi tertahan.