Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu
Ulangnya lirih.
Napasnya bergetar sebelum kalimat berikutnya jatuh sempurna di antara mereka.
“Aku mencintaimu, Irisha.”
Dada Irisha terasa sesak, bukan karena sakit, tapi karena kebahagiaan yang datang terlalu tiba-tiba. Ia menutup mata, menahan air mata yang hampir jatuh. Untuk pertama kalinya, ia merasa wanita terbahagia di dunia ini, meski jalan yang harus dilalui terlalu sulit.