Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Menari Bersama Hujan

Menari Bersama Hujan

Meihui menoleh, dan Rain mulai membaca pelan: "Ketika hujan pertama jatuh setelah kepergianmu, dia duduk diam di bawah jendela. Aku melihatnya dari kejauhan, dan aku tahu—dia tidak sedang mencari pelangi, dia sedang menunggu reda. Aku tidak datang untuk menggantikanmu, tidak pernah. Tapi jika cintamu adalah hujan yang mengajarinya bertahan, Maka biarkan cintaku menjadi langit yang tak lagi mendung." Meihui menutup matanya. Air matanya mengalir, perlahan, seperti hujan pertama setelah musim kemarau. Tapi kali ini, bukan karena duka. Tangis itu adalah campuran dari rasa syukur, rindu, dan penerimaan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Rain, tidak berkata apa pun untuk waktu yang lama.
718 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 22 kali sebagai kalau lagi hujan family 100
Baca
+Pustaka
Terpaksa Menikahi Sopir Bapak

Terpaksa Menikahi Sopir Bapak

“Termasuk hari ini.” Aku menoleh padanya, sedikit heran. “Kenapa Pa bilang begitu?” Fatih menatapku lama—tatapan hangat yang tidak pernah gagal melembutkan dadaku. “Soalnya hujan bikin kita pulang cepat, bikin kita lupa drama tadi, dan sekarang… lihat kita.” Dipta ikut mengangguk. “Kita kayak keluarga yang di film itu loh, Ma. Duduk-duduk lihat hujan dan minuk susu hangat!”
1062.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.4K kali sebagai kalau lagi hujan family 100
Baca
+Pustaka
Jodoh Jebakan Dari Opa

Jodoh Jebakan Dari Opa

"Nanti kita singgah ke minimarket deh, numpang salin baju" "Iya , ikut rencana mas deh" " Paling bemtar lagi, di depan ada indo oktober" “Mas, kamu sadar gak? Hujan itu kayak kita.” “Lho, kok bisa?” “Awalnya ribut dan berisik, tapi akhirnya tenang.” Raka tersenyum. “Dan ninggalin aroma yang enak.” “Mas , kamu baru aja nyamain aku sama tanah basah?”
101.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 41 kali sebagai kalau lagi hujan family 100
Baca
+Pustaka
Hajatan di Rumah Ibu

Hajatan di Rumah Ibu

tanyaku, berusaha mengalihkan perasaan yang mulai menguasai hati. "Bu, tadi waktu kami pulang sekolah, kami lewat depan rumah Nenek. Di sana ramai sekali, Bu," kata Adnan penuh semangat. "Benar, Bu," sahut Malik, putra keduaku yang berusia sembilan tahun. "Kayaknya Nenek lagi ngadain hajatan. Banyak makanan di sana." "Bu, Ami lapar," celoteh Ami, putra bungsuku yang baru berusia tujuh tahun. "Kita ke rumah Nenek, yuk! Kata Ibunya Diah, Nenek motong banyak kambing,"
101.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 66 kali sebagai kalau lagi hujan family 100
Baca
+Pustaka
KELUARGAKU ADA, TAPI TIDAK NYATA

KELUARGAKU ADA, TAPI TIDAK NYATA

“Serem ya, Pri. Anakku kadang denger suara tangisan bayi malahan.“ “Makanya gak ada yang mau keluar malam-malam sekarang.“ Jupri mengangguk-angguk. Matanya menatap sekeliling entah kenapa bulu kuduknya meremang. “Aneh gak sih, Mo?“ ucapnya mengusap tengkuk. “Iya, kayak ada yang merhatiin.“ “Kamu pula cerita-cerita begitu, mana dekat rumahnya lagi. Nanti dia dengar.“ “Lah, kamu juga cerita tadi.“ “Ah udahlah, pindah aja!“ usul Nomo mengangkat parangnya. Keduanya masuk ke dalam ladang tebu dan memulai dari yang paling belakang. Saling menebas hingga batang-batang tebu itu luruh di tanah.
1.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 29 kali sebagai kalau lagi hujan family 100
Baca
+Pustaka
Mendadak Dinikahi Om-Om

Mendadak Dinikahi Om-Om

Pasukan air hujan sudah datang menyerang bumi, terlihat beberapa orang yang tampak sudah berlarian, bergegas untuk berteduh. Padahal dulu ia amat sangat suka dengan hujan, namun, semenjak kejadian beberapa bulan yang lalu, Nala tak pernah lagi menyukai hujan, justru ia sangat membencinya. Hujan, semuanya berawal dari hujan, jalanan yang licin dan juga jarak pandang yang buruk, mengakibatkan kecelakaan yang menimpanya dengan Mama. Ah, perempuan yang telah melahirkannya itu masih terbaring di rumah sakit, nyawanya masih terombang-ambing tak jelas.
105.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 183 kali sebagai kalau lagi hujan family 100
Baca
+Pustaka
TOPENG MANIS SANG PEMBUNUH

TOPENG MANIS SANG PEMBUNUH

Jawab Ruben akhirnya Ia mematikan alat itu, lalu menatap ke arah rumah Hera yang kini terdengar suara sambutan dari ibu dan adik Hera yang tertawa bahagia dari dalam rumah. Malam itu, hujan kembali turun. Hera duduk di ruang tamu, memandangi foto keluarga di meja. Ibunya tertidur di kursi goyang, dan adiknya baru saja menutup pintu kamar.
759 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 26 kali sebagai kalau lagi hujan family 100
Baca
+Pustaka
Bertanggung Jawablah, Bos Arogan!

Bertanggung Jawablah, Bos Arogan!

Tiba-tiba terdengar petir menyambar, seketika Tristan merentangkan tangannya ke arah Chase. "Akhirnya jadi juga gendong Papa kan!" ujar Chase dengan sayang. Mereka semua melihat kejadian itu dan masing-masing menyimpan kejadian itu dalam hati, tak satu pun yang bersuara. “Oh iya, sepertinya sekarang sering hujan yaa,” ucap ibunda Chase. “Iya Mom, kadang sama hujan angin atau hujan petir. Jadi agak was-was juga kalau mau pergi keluar,” ucap Samantha.
104.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 141 kali sebagai kalau lagi hujan family 100
Baca
+Pustaka
Grup WA Keluarga Suamiku

Grup WA Keluarga Suamiku

Bab 1 Grup W* Keluarga Suamiku [Istrimu itu kapan kirim Ibu duit?] pesan dari Ibu mertuaku. [Nanti ya Bu, aku minta pada Najwa] balas Mas Beni. [Kak, aku juga mau belanja ke Mall. Mintain 2 juta ya!] pesan dari Sania adik Mas Beni. Ternyata di grup keluarga, ini yang mereka bahas.
9228.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 8.4K kali sebagai kalau lagi hujan family 100
Baca
+Pustaka
Kulakukan Demi Keluarga

Kulakukan Demi Keluarga

POV Silvi. Aku berteduh dari derasnya hujan, yang mengguyur seluruh kota ini, hingga Malam terasa begitu dingin menusuk tulang, langit pun begitu gelap tak ada cahaya rembulan yang menyinari.
1020.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 667 kali sebagai kalau lagi hujan family 100
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Family 100 selalu jadi tempat nostalgia buat aku yang sering main ke sana pas masih pacaran dulu. Rasanya kayak punya bubble sendiri di tengah keramaian—cahaya lampu neon yang redup, suara mesin game yang berisik tapi jadi white noise nyaman, dan aroma khas popcorn yang bikin betah. Spot favoritku di dekat mesin 'Dance Dance Revolution', karena bisa ngakak bareng lihat gebetan gagal mengikuti irama. Meja di pojokan dekat window juga romantis banget buat ngobrol sambil bagi-bagi sundae, apalagi kalo udah malem dan kerumunan mulai sepi. Atmosphere-nya itu loh... campuran antara excitement arcade dan intimacy kecil berdua.

Yang bikin seru, staffnya nggak pernah maksa kita belanja terus-terusan, jadi bisa santai duduk berjam-jam cuma modal segelas soda. Kadang malah ikutan ngobrol ringan tentang high score terbaru. Kalo lagi beruntung, dapet meja dekat projector yang suka muterin MV K-pop—instant mood booster buat doi yang fans berat. Family 100 itu kayak taman bermain dewasa versi lowkey, tempat di mana awkward first date bisa berubah jadi kenangan manis karena settingnya yang nggak bikin tegang.

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status