Kesempatan Kedua
“Apapun yang terjadi nanti di rumah utama, jangan pernah tinggalkan aku, tolong....”
Agni tersenyum tipis. Meskipun tidak paham dengan ucapan suaminya, ia tetap mengangguk. Agni lalu mengusap pipi Samudera. “Pasti!” tegas Agni. “Dengar, Sam. Kita sekarang adalah dua, bukan satu. Sekarang, tidak ada lagi aku dan kamu, tetapi hanya ada kita. Jadi, apapun yang terjadi nanti, entah baik atau buruk kita akan hadapi bersama. Kita berdua sudah sama-sama dewasa, bukan lagi remaja labil yang bersikap implusif. Jadi, jangan khawatir lagi ya, aku selalu percaya sama kamu.”