Dua Kakak Tiriku Yang Posesif
Setiap lipatan kainnya jatuh presisi, seolah dunia bisa runtuh sekalipun, penampilannya tetap harus berada dalam kendali penuh.
Kehadirannya yang menjulang tinggi di sampingku kembali memberikan rasa sesak yang familiar, perasaan kecil, tertekan, dan tidak punya pilihan.
“Di dunia kita,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan stabil, “senjata adalah bahasa yang paling cepat dipahami.”
Ia melirikku sekilas. “Dan paling efektif.”
Aku mengalihkan pandangan. Jawaban itu bukanlah jawaban, melainkan vonis.