Dosenku, Sayangku
Liora menajamkan pendengarannya, memanfaatkan keheningan koridor sore itu untuk mencuri dengar percakapan mereka.
"Kamu tidak perlu repot-repot membawakan kopi ke kelasku, Clarissa," ujar Mahen. Suaranya terdengar jauh lebih lembut dibanding saat mengajar, meski sisa-sisa nada kakunya tetap ada.
Clarissa tersenyum manis, membetulkan letak tas kulitnya di pundak.
"Aku tidak repot, Mahen. Lagipula, Ibu yang memintaku untuk memastikan kamu tidak melewatkan makan siang lagi karena sibuk mengurus draf maket mahasiswa."