JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU
Tapi, Eyang bilang ini ganitri lapuk, usianya sudah ribuan tahun.
“Gunanya opo, Yang? Imel takut.”
“Eyang sering tak sadar diri, karena sering lepas ini. Seperti tadi,”
Putusnya obrolan singkat kami ditandai suara bising dari arah pintu utama. Eyang memotong ucapan, sedangkan aku beringsut ke dinding. Takut, tertekan, bercampur jadi satu. Aku mengingat saat tadi datang ke rumah, wanita yang kukira Eyang memanggilku dengan bahasa jawa kental, lain saat Eyang asli mengajakku berbicara. Dia menyebut dirinya Watri, dia menyebut dirinya sedang berdoa. Apakah wanita itu memang bernama Watri?