Di Ujung Perpisahan
Matanya begitu memelas, ia ingin memperbaiki kesalahannya jika Indah memberi kesempatan.
"Kita sudah pernah berumah tangga, mas. Cukup satu kali saja kita saling menyakiti."
"Tapi aku mencintaimu, Indah!"
"Cintamu semu! Yang ada di dalam hatimu bukan cinta tapi penyesalan, rasa iba dan juga bersalah. Kamu hanya penasaran bagaimana aku nantinya menjalani hidup. Tidak, mas!" Indah menggeleng. Tangannya menurunkan tangan Biru yang memegang lengannya. "Kejarlah bahagiamu.. kamu pantas mendapatkan wanita lebih baik dariku."