Di Bawah Jemarinya yang Panas
Bahunya bagai batu penggiling yang tak kenal lelah, berulang kali bergesekan dengan tubuhku.
Aku merasa seperti ikan yang terdampar di pantai, tak mampu berbuat apa pun selain terengah-engah.
Kenikmatan itu datang bergelombang seperti ombak, gelombang demi gelombang, menyerang akal sehatku.
Pikiranku menjadi kosong, dan naluri tubuhku sepenuhnya mengambil alih.
Tanpa sadar aku menegakkan punggungku untuk mengikuti gerakannya, mendambakan rangsangan yang makin intens.