Ada malam di mana pikiran tentang seseorang terus menggelayut seperti adegan klimaks di 'Your Lie in April' yang tak bisa di-skip. Rasanya seperti otak memutar ulang setiap interaksi, ekspresi wajah, atau kata-kata yang terlewat. Bagiku, ini mirip dengan efek setelah membaca novel romance yang terlalu immersive—emosi tertinggal dalam 'hangover' fiksi, tapi dengan realita yang lebih nyeri.
Tubuh mungkin lelah, tapi hati dan kepala terjebak dalam mode analisis overdrive: 'Apa artinya ketika dia bilang itu?' atau 'Bagaimana kalau aku merespons berbeda?' Proses ini alami sebenarnya, tanda bahwa kita manusia dengan kapasitas untuk peduli sampai dalam-dalam, meski kadang bikin jadwal tidur berantakan.