Kukira Dia Cinta, Ternyata Pemberi Luka
Aku menarik pandanganku dari arah Riko, lalu menggeleng pelan sembari menyahut, "Nggak usah, nggak ada yang perlu dibicarakan. Lagi pula, aku sudah punya kamu. Untuk apa bicara dengannya?"
Sejak aku meninggalkan pesta satu bulanan anaknya waktu itu, aku dan Riko sudah menjadi dua orang asing yang tidak lagi punya alasan untuk berbicara.
Mendengar jawabanku, Peter akhirnya tersenyum dan cemburunya mereda. Dia menarikku ke dalam pelukannya, menciumku dengan penuh kasih.
"Nisa, aku mencintaimu!" ucap Peter.
Aku menunduk dan membalas dengan nada lembut, "Aku juga."