PESONA MAS IPAR
Rupanya mama terus bergerak ketika aku menyambut Mbak Tutik, Arsen, dan istrinya.
"Iya, Ma." Aku merasa tidak enak hati, karena Mama menatapku bergantian dengan bubur di meja.
"Ada dua porsi?" Mama tampak curiga.
"Oh itu."
"Halu dia, Ma." Belum selesai aku menjawab, Mbak Tutik sudah menyahut. "Jangan-jangan nanti dia naruh boneka di situ buat nemenin makan." Semua yang mendengar tertawa. Begitu juga aku. Selamaat, batinku.