Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Konspirasi

Konspirasi

timpal danil William kembali membalas dengan sebuah emoticon sarkas “iya, makasih ganteng. Tadi aku nyuruh amel buat nganterin berkas pertemuan kamu dengan klien . @ niel nanti kau harus tengok pipit di rumah sakit juga bawakan makanan untukku” Balas irena “siap ibu negara :*” danil mengirimi emot cium untuk irena dan berhasil membuat William mual. Tuk Tuk Tuk
9.96.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 229 kali sebagai kontrol
Baca
+Pustaka
Rasa

Rasa

"Hish, maksudnya tuh-" "Ekhem, ekhem. Udah, udah. Rasanya emang gak jelas, Kyr. Intinya Kyra harus pinter-pinter mengontrol diri untuk menyikapi perasaan itu. Dan sebenernya gak cuma itu aja, emosu apapun yang Kyra rasakan itu, pada dasarnya harus disikapi dengan baik dan bijak ya, sayang." Santi bangun dari duduknya.
104.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 133 kali sebagai kontrol
Baca
+Pustaka
Titik terakhir

Titik terakhir

Seseorang yang tidak akan bisa memerima kekuranganku sebagai anak yang 'unik' atau dibilang aneh karena tidak bisa mengendalikan diri. Entah ego apa kemunafikan yang akan bertahan di sini. Aku belum bisa memastikan secara lantang. "Miko mengajakku video call dengan neneknya," dalam batin yang bergemuruh aku hanya bisa bercicit dalam kamar yang diisi tiga orang perempuan tersebut. Aku, Nurul dan Bu Ikhlas. "Semua terserah padamu, Ran. Yang menjalani itu kamu. Tetapi sia tidak cukup dewasa, dua masih ingin diemong. Bukan ngemong."
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 65 kali sebagai kontrol
Baca
+Pustaka
YOU

YOU

batin Kesya bertanya "Maafkan saya nona, saya tidak berani membantah perintah Tuan Sean. Jika anda membutuhkan sesuatu, anda hanya perlu menekan tombol wireless yang ada di dalam kamar." jelas citra cepat yang sama sekali tidak dipahami oleh Kesya. "Kalau begitu, saya permisi nona." pamit citra undur diri sembari membungkukkan setengah badan.
9.911.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 374 kali sebagai kontrol
Baca
+Pustaka
Exit

Exit

Begitu pun aku melakukan hal yang sama. “Kalian mau jadi penunggu sekolahan, ya?” April malah balas bercanda, bukannya bilang terima kasih karena habis dipuji tadi. “Seenak jidat. Kita lagi diskusi keuangan negara dibilang.”
102.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 71 kali sebagai kontrol
Baca
+Pustaka
Cinta Dalam Riuh Salju

Cinta Dalam Riuh Salju

“Tangga ke ruang kontrol ada di sisi timur!” Leo dan Amara berlari bersama. Langkah mereka menggema di koridor sempit, hingga mereka tiba di satu ruang kaca besar: pusat kontrol Helix Ascension. Dan di sana—Halverson, berdiri di depan panel kontrol cadangan dengan jari-jari siap mengetik. “Kau tidak akan menang,” kata Leo. Halverson tersenyum. “Aku tidak butuh kemenangan. Aku hanya butuh satu aktivasi.”
849 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 27 kali sebagai kontrol
Baca
+Pustaka
KINASIH

KINASIH

"Ini ... kok mirip punya Papa?" Mariana mengamati sebuah kunci dengan gantungan yang tak asing baginya. Sebuah benda yang terbuat dari besi berwarna perak, dengan ukiran kanguru dan nama negara di bawahnya. Sedangkan saat dia melihat bagian belakang benda itu, Mariana cepat melepaskan dan membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangan. Dia menggeleng kuat, tak kuasa membayangkan lebih jauh tentang suaminya.
1.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 35 kali sebagai kontrol
Baca
+Pustaka
TEROR SINDEN GHAIB

TEROR SINDEN GHAIB

Untuk pertama kalinya— ia tidak langsung merespons. Seperti memproses. Mencari. Memahami. “Aku mencari keseimbangan.” Ia berkata. Aruna menggeleng pelan. “Kamu mencari kontrol.” Sunyi. Lebih berat. Namun tidak menekan. Sosok itu menatapnya. Lebih dalam. “Kontrol adalah bentuk keseimbangan.” Aruna tersenyum tipis.
853 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 18 kali sebagai kontrol
Baca
+Pustaka
Choice

Choice

“Mama bilang harus turunin 3 kg lagi, nanti aku dapat hadiah robot-robotan.” “Kamu suka sama robot?” “Iya, aku pengin bisa bikin robot kayak di kartun Ultraman.” “Anak pintar.” Dielusnya lembut kepala Ardi. “Om ada hadiah buat kamu.” Pria itu memberi kode pada sekretarisnya untuk mendekat. Dia memberikan tas belanja pada Ardi. Mulut Ardi menganga saat kardus dari tas belanja dikeluarkan. Mobil-mobilan dengan remote kontrol. Ardi memandang bingung pria yang berlutut di hadapannya. Dia ingat nasihat Papanya agar tidak menerima begitu saja barang atau makanan dari orang yang tidak dikenal.
101.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 46 kali sebagai kontrol
Baca
+Pustaka
Pulang

Pulang

Pak Tejo bertanya pada sang istri. "Aku bahkan tidak bisa menyalakan mesinnya," jawab bu Retno. " Bu, setelah ini aku akan kembali mengumpulkan uang untuk membeli sebuah mobil keluarga, kau bisa belajar membawanya karena itu lebih kecil," ungkap pria itu berbicara tanpa melihat ke arah sang istri. Pandangannya hanya tertuju pada semua yang ada di dalam mobil itu, menyentuh semua dengan senyum lebar terukir di bibirnya.
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 84 kali sebagai kontrol
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
456789
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status