SUMPAH PELAKOR
“Fokus! Satu kesalahan, kita semua tenggelam!”
Anita terdiam, pipinya memerah, matanya berkaca-kaca. Efendi menoleh, tapi tak berkata apa-apa. Suasana ruangan membeku.
Darmadi kembali duduk, mengatur napas. “Besok pagi, koper-koper ini harus bersih. Jangan ada jejak. Kalau kamu tidak sanggup, bilang sekarang.”
Anita menatap koper-koper itu. Tangannya gemetar, tapi ia kembali ke laptop, mengetik perintah transfer dengan cepat. Ia tahu, malam ini bukan soal pilihan tapi soal bertahan hidup.