Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
MENJADI ISTRI USTADZ KAMPUNG

MENJADI ISTRI USTADZ KAMPUNG

“Oh ya Mas, ibu juga sudah memasak nasi ketan, tapi masih belum matang sepertinya lagian sekarang ibu sedang ke warung mau beli kelapa buat diparut untuk taburan di atas nasi ketan.” Raya kembali menunjukkan antusiasnya atas makanan sederhana khas desa yang ternyata sangat lezat di lidahnya. “Iya, ibu bikin apem dan ketan soalnya buat ikut acara megengan.” Raihan kemudian mulai memberi penjelasan pada sang istri. “Megengan? Acara apa itu?” “Acara untuk menyambut menjelang datangnya bulan Ramadan.”
108.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 193 kali sebagai kuli kampung
Baca
+Pustaka
KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK

KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK

"Kondisi tubuhku belakangan ini sering memburuk. Kudengar dari Kapten Zhang, kamu memiliki pengetahuan tentang ramuan herbal tradisional yang bisa meredakan rasa sakit?" Kapten Zhang yang berdiri di belakang langsung menahan napas, menyadari bahwa Nona Besarnya sedang melemparkan umpan langsung untuk menguji sang kuli. Chen Fan menggaruk kepalanya yang penuh debu dengan gaya kikuk. "Ah... itu... saya cuma tahu rumput liar obat dari gunung di dekat panti asuhan, Nona. Kalau penyakit orang kota yang hebat seperti Nona Besar, mana mungkin ramuan kuli seperti saya bisa mempan. Nona pasti salah dengar dari Kapten Zhang."
103.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 140 kali sebagai kuli kampung
Baca
+Pustaka
Mata Batin

Mata Batin

Ia berpura-pura tak mendengar. "Kenapa, Bang. Apa ada sesuatu?" tanya Bara makin penasaran. Rahasia apa di kampung tersebut. "Ehm, bagaimana ya? Bingung juga saya ceritanya." Kasim mengaruk kepala. "Tiap kampung pasti ada Musholla atau Masjid tapi kampung itu gak ada." Bara berusaha untuk mengorek informasi dari lelaki beranak satu di sampingnya.
1019.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 540 kali sebagai kuli kampung
Baca
+Pustaka
Kutukan Desa Gunung Kembar

Kutukan Desa Gunung Kembar

Sejak aku pertama kali menstruasi, ibuku memberiku sebotol salep dengan sikap misterius dan menyuruhku mengoleskannya ke dada setiap malam. Setelah mengoleskan salep misterius itu selama sepuluh tahun, aku benar-benar memiliki sepasang "gunung kembar" yang paling sempurna. Namun, harta karun yang begitu sempurna itu hanya bisa disembunyikan di balik pakaian. Ibuku melarang keras aku berhubungan intim dengan laki-laki, dan bahkan melarangku mengenakan pakaian apa pun yang memperlihatkan buah dadaku. "Jangan biarkan pria mana pun melihat dadamu. Kalau nggak, pria itu bisa mati!" Pada ulang tahunku yang ke-24, aku berhubungan intim dengan pacarku untuk pertama kalinya. Tidak sanggup menahan ray
1.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 52 kali sebagai kuli kampung
Baca
+Pustaka
Mertua Cerdas VS Menantu Licik

Mertua Cerdas VS Menantu Licik

Ketiga gadis itu berpandangan, lalu menggeleng cepat. "Memang bener begitu, Bu?" tanya Laura penasaran. "Kampung-kampung di Negeri ini kan beda-beda. Ada yang masih tradisional, terbelakang, terpencil dan terluar juga. Tapi banyak juga yang masih status kampung, tapi mulai tersentuh gaya hidup modern. Kalau di kampung ibu memang tidak ada warung nasi. Sekali seminggu ada yang jual lontong sama pecal. Jadi, benar kata Santi, kalau gak masak ya numpang ke rumah mertua aja," kekehku karena melihat mulut mereka membulat. Begitu menjiwai semua ucapanku. Mereka jadi ikutan tertawa.
7.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 257 kali sebagai kuli kampung
Baca
+Pustaka
Kulakukan Demi Keluarga

Kulakukan Demi Keluarga

Tuan, jika di perbolehkan, saya mau pulang kampung dulu, saya rindu pada Adik-adik dan Ibu, hanya untuk satu hari. Aku memelas agar Devan mengizinkan aku pulang dahulu, untuk menemui keluarga, karena aku sangat merindukan mereka, aku ingin sekali bertemu Ibu dan Adik-adik. "Hm." Devan mendengkus pelan, "Baik kampung mu di mana? Biar Reno yang mengantar mu besok pagi-pagi!" lanjutnya menatapku. "Di daerah C, Tuan." Aku menunduk.
1021.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 482 kali sebagai kuli kampung
Baca
+Pustaka
KAMPUNG HALIMUN

KAMPUNG HALIMUN

“Soalna, ieu Halimun Abdi, ieu Halimun anu bener, lain kampung anu pinuh ku harta jeung kabagjaan, tapi ieu Kampung Halimun anu sabenerna. (Soalnya, ini Halimun Abdi, ini Halimun yang sebenarnya, bukan kampung yang penuh dengan harta dan kebahagian, tapi ini kampung yang sebenarnya.)” “Kampung ieu teh geus di kutuk, kabeh wargana geus ngadahar buah simalakama, menta tulung kanu salah, make ritual anu salah, anu akhirna bakal jadi bencana. (Kampung ini sebenarnya sudah dikutuk, semua warganya sudah memakan buah simalakama, meminta tolong kepada yang salah, memakai ritual yang salah, yang akhirnya akan jadi bencana.)”
9.631.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.2K kali sebagai kuli kampung
Tampilkan Ulasan (22)
Baca
+Pustaka
pujangga manik
jangan lupa baca karya terbaru saya ya SEHARUSNYA KAU IKUT MATI ekslusif di Goodnovel baca juga karya saya yang lain WARUNG TENGAH MALAM (tamat) KUTUKAN LELUHUR (tamat) KAMPUNG HALIMUN (tamat) support terus ya, Terima kasih
Joy Julia
Sepertinya mending selesaikan Warung Tengah Malam dulu Thor, sudah terlanjur seru, biar bs fokus satu per satu dulu. Kampung Halimun seru jg, tp blm panas. Bakal geregetan kalau disana masih bersambung, disini bersambung
Baca Semua Ulasan
Menantu Kuli

Menantu Kuli

Tanpa ragu, ia berlari menuju sumber suara. Suara teriakan itu membawanya ke sebuah gudang tua yang terletak di ujung kampus, tersembunyi di balik pepohonan. Gudang itu terlihat usang, dengan dinding kusam dan pintu kayu yang sudah lapuk. Willy mendekati pintu gudang dan mendengar suara langkah kaki bergegas dari dalam. Ia segera mendobrak pintu kayu itu hingga terbuka dengan suara keras.
103.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 146 kali sebagai kuli kampung
Baca
+Pustaka
PULANG KAMPUNG

PULANG KAMPUNG

Mbak Sinta bertanya pada Mila yang masih serius mendengarkan obrolan kami. "Iya. Perkampungan agak kumuh gitu, Mbak. Banyak preman, pengemis, pemulung dan lainnya di daerah itu. Ngapain Mas Huda ke sana coba? Cari perkara aja," jawab Mila bingung. "Aku juga nggak tahu, Mil. Jangan-jangan tiap bulan Mas Huda pamit ke bengkel itu cuma buat ke perkampungan itu? Ada apa sebenarnya di sana?"
10101.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 3.3K kali sebagai kuli kampung
Baca
+Pustaka
Akibat Pulang Kampung Tidak Bawa Mobil

Akibat Pulang Kampung Tidak Bawa Mobil

Mumpung masih di kampung, lebih baik aku gunakan untuk wisata kuliner. "Ya ada, to. Aku juga kangen sambelnya yang pedesnya mengalahkan mulut tetangga!" kata Emak. "Makan sambelnya saja?" godaku. "Ya, sak temen-temennya saja dong. Daging Empal, Ayam Suwir, Serundeng, Babat Bacem ...." "Hloh, temannya kok sak kampung?" teriakku memotong ucapan Emak, sambil tertawa disambut Pakde Jangin yang ngakak.
103.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 76 kali sebagai kuli kampung
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
9
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status