Musuh Besar Si Gendut
Lukisan itu adalah harapan hidupku minggu depan, karena menurut e-mail yang kuterima, beasiswaku baru cair dua minggu lagi, sedangkan uang yang ada di tasku tinggal lima puluh dolar.
"Setelah acara itu, kau free?"
Aku mengangguk kecil.
"Kalau begitu... aku menunggumu sampai lukisanmu terjual, lalu kita pergi ke cake tasting, ya? Please, please. Aku ikut berdoa agar lukisanmu laku paling mahal," rengek Lindsay memegang kedua tanganku di atas meja.