Wiro sang Penakluk
"Bu, izinkan saya memijat kepala dan leher Ibu. Saya yakin bisa membantu."
Wanita itu mengangguk lemah.
Wiro mulai bekerja. Tangannya bergerak dengan presisi yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri—menekan titik-titik di pelipis, di belakang telinga, di dasar tengkorak, di sepanjang tulang leher. Setiap tekanan terasa tepat, setiap gerakan terasa bermakna.
Liontin di dadanya berdenyut hangat, seolah memandu setiap gerakannya.