Aku Pernah Mencintaimu, Sebatas Itu
Dia pun memberanikan diri untuk membujuk, “Pak Tristan, aku tahu kamu sedih. Tapi, hidup tetap berlanjut. Maaf kalau aku bicara terlalu jujur. Tapi, kalau kamu cuma merokok seharian dan nggak berhenti menyiksa diri, kamu akan jatuh sakit sebelum dapat informasi tentang Nona Talia.”
“Bagus juga kalau begitu.”
Tristan sama sekali tidak berani memejamkan mata. Setiap dia memejamkan mata, dia akan melihat bagaimana Talia menatapnya dengan tatapan sedingin es dan bagaimana Talia membulatkan tekad untuk pergi.
Tristan bertanya dengan penuh kepahitan, “Kalau aku sakit dan hampir mati, apa dia akan pulang untuk menjengukku?”