Kau Adalah Obatku
Jakun di lehernya, lengannya yang berwarna kecokelatan, dan juga hangatnya telapak tangannya tadi.
Aku sama sekali tak mampu berjalan jauh. Baru beberapa langkah, lututku sudah lemas hingga aku berlutut di tanah.
Reaksi tubuh yang begitu kuat membuatku hampir tak merasakan sakit di lutut.
Dimas segera menyusul, mencoba menolongku berdiri.
"Rina, sebenarnya kamu kenapa?"
Aku tahu, siapa pun yang sakit dan jatuh seperti ini, dia pasti akan membantu tanpa ragu.