MasukRindiani adalah seorang gadis muda dengan hidup penuh dengan cobaan, semuanya berawal dari kecelakaan yang menimpa ayahnya hingga perselingkuhan yang di lakukan oleh kekasihnya sendiri bersama saudara sepupunya
Lihat lebih banyakStiletto seorang wanita berseragam coklat muda lengkap, terdengar nyaring di ruangan kantor Badan Narkotika Nasional untuk kesekian kalinya.
Terlihat jelas nama dan jabatan di sana. Langkah kaki jenjang wanita berambut pendek itu terhenti di depan meja kerja seorang wanita yang menjabat sebagai sekretaris sang jenderal berbintang dua."Selamat pagi, Laila!" sapa wanita berseragam coklat tersebut.Jemari yang sejak tadi berada di atas keyboard seketika terhenti. Kemudian mendongakkan kepala sambil tersenyum sumringah karena mengenal sosok wanita yang berdiri di hadapannya."Pagi, Uni," jawab Laila, sambil berdiri dan memberi hormat dengan nada ramah seperti biasa.Mata Laila seakan liar, ketika melihat satu amplop berwarna putih yang langsung dibuka oleh wanita tersebut."Bisa jelaskan, apakah kamu sudah menikah lagi?" tanya wanita itu tanpa mau menatap wajah Laila.Kening Laila mengerenyit, alisnya menaut, ia tersenyum tipis seakan tersedak, mengingat kembali pernikahan rahasia bersama pria bernama Aban yang telah di laksanakan tiga hari lalu.Pertanyaan wanita berseragam itu, mengisyaratkan bahwa Laila telah berani melakukan kesalahan di instansi pemerintah, walau dirinya hanya orang sipil yang bertugas sebagai sekretaris."Maksud Uni, apa?" tanya Laila berusaha tenang dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, karena perasaan gugup."Kamu bertanya, apa maksud saya, huh?" jawab wanita yang biasa di sapa Desy tersebut.Laila menghela nafas berat, ia mencondongkan tubuhnya agar mendekat dan tidak di dengar oleh pihak lain, tapi tak diacuhkan Desy."Saya ke sini untuk melakukan pemeriksaan atas tuduhan perzinahan yang kamu lakukan, karena belum resmi bercerai dari Very!" tegas Desy tanpa basa-basi.Seketika Laila menelan ludahnya. Ia dibuat pening bahkan tidak menyangka akan mendapatkan penyerangan seperti itu dari Very."Ta-tapi, Un!""Tidak ada tapi, tapi! Selesai makan siang, kamu saya tunggu di kantor!"Jantung Laila seakan berhenti berdetak, nafas seakan sesak, tenggorokan tercekat karena merasa kering dan tidak nyaman.Rasa ketakutan yang Laila ketahui beberapa waktu lalu di rasakan Aban, ternyata kini berbalik menimpa dirinya. Apa yang harus Laila lakukan? Bagaimana cara Laila menghubungi Aban, sementara pria berusia 38 tahun itu tidak memiliki alat komunikasi seperti kebanyakan orang saat ini."Hei, Laila!" hardik Desy sebelum meninggalkan meja kerja Laila.Laila memberi hormat seraya menjawab, "Siap, Un!""Oke, saya tunggu di kantor! Permisi!"Laila hanya melihat wanita itu berlalu begitu saja meninggalkan ruangan. Pandangannya semakin berkunang-kunang. Ia kembali menghela nafas pelan, kemudian membaca surat yang sudah ternganga lebar di meja kerjanya.Satu persatu Laila uraikan dengan kedua bola mata membulat besar. Sebagai seorang sipil untuk membantu aparatur negara, ia berulang kali mengusap wajahnya kasar akan tuduhan sang mantan suami yang telah menceraikannya secara agama dua tahun silam.Laila menarik kursi duduknya, membaca ulang atas ancaman penjara yang akan ia jalani, jika pernikahan sirinya dengan Aban terbuka di khalayak umum.Perlahan Laila menghempaskan badannya di kursi kebanggaan, meremas kuat rambutnya yang tergerai. Membaca berulang kali surat panggilan yang sangat memalukan baginya. 'Kenapa Very menuntut ku sekarang? Bukannya beberapa waktu lalu aku pernah menikah siri dengan pria lain, tapi kenapa harus pernikahanku yang ini di tuntut oleh pak tua itu!' Ia kembali mengumpat kesal dalam hati.Laila tidak dapat berpikir jernih, hatinya berkecamuk seketika. Perasaannya semakin tak karuan, karena pernikahannya dengan Aban masih berumur tiga hari. Apakah Laila harus menghubungi Very? Mempertanyakan maksud kedatangan surat panggilan dari pihak kepolisian tersebut.Berulang kali Laila membolak-balikkan benda pipih yang ada di atas meja kerjanya, agar tidak terjadi salah paham lagi seperti beberapa waktu lalu.Perceraian kedua Laila, tapi kini bersama Very menyisakan rasa sakit yang mendalam bagi kedua buah hati mereka hingga saat ini. Kini harus mendapatkan penyerangan kembali, dengan maksud yang masih menjadi tanda tanya.Jam dinding berdentang begitu cepat. Laila harus memenuhi panggilan penyidik kepolisian siang itu. Tentu setelah menghubungi Aban melalui telepon keponakan."Selamat siang.""Siang. Bisa saya bertemu dengan Bu Desy?"Seorang pria bertubuh tinggi besar yang menyapa Laila lebih dulu, justru membukakan pintu ruangan yang ada di belakangnya, tanpa mengajukan pertanyaan lagi. "Silahkan, Bu!"Laila mengangguk, berusaha tenang dan tersenyum. Menikmati sejuknya hembusan air conditioner ruangan yang menusuk kulit. Walau hatinya masih penuh kecemasan, karena belum bertemu dengan Aban yang berjanji akan mendampinginya siang itu.Lebih dari dua jam, Laila menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang tak terelakkan, sehingga membuat dirinya harus berkata apa adanya."Jadi, kamu tidak tahu undang-undang pernikahan?" tanya Desy semakin memojokkan Laila."Sejujurnya saya tidak tahu undang-undang pernikahan yang sudah diperbarui." Laila menunduk sambil meremas kuat tangannya sendiri.Laila Pratiwi, wanita berstatus janda yang kini sudah berusia 32 tahun. Pernikahan diam-diam yang ia lakukan tiga hari lalu, hanya untuk menutupi fitnah yang beredar selama kedekatannya dengan Aban.Tentu ini bukan hal yang mudah bagi Laila, karena legalitas perceraiannya dengan Very belum di sahkan secara hukum.Tangan halus itu tampak bertautan di atas meja, dan sesekali tatapan Laila beradu pandang dengan Desy."Kamu tahu, ini merupakan tindakan pidana, Laila?" tanya Desy kembali bersuara tegas."Maaf, Un. Sejujurnya, saya tidak mengetahui tentang hal ini. Saya benar-benar tidak mengetahui ini salah atau benar," tutur Laila dengan wajah menunduk malu.Desy tersenyum tipis, "Mana ada orang yang dinas di pemerintahan buta akan hukum pidana!" Ia menggeleng, meremehkan Laila yang masih terus menundukkan wajahnya.Kembali Desy bertanya, "Apakah suami kamu yang sekarang juga tidak mengetahui resiko pernikahan siri kalian saat ini?"Laila kembali menggeleng. Ia terjebak dalam pernikahan siri yang mereka lakukan dalam hitungan hari. Walau beberapa keluarga besar menentang keputusannya dan Aban kala itu, tapi mereka tetap melaksanakan pernikahan tersebut demi menjaga nama baik kedua belah pihak keluarga.Sudah hampir tiga jam Laila berada di ruang pemeriksaan. Bibir pucat nan tampak mengering, hanya menjawab lebih dua puluh pertanyaan Desy yang tak pernah berhenti.Tuduhan perzinahan yang Laila lakukan dalam ikatan pernikahan dengan Very, hingga bukti surat pernikahan siri dengan Aban sudah sampai di tangan Desy saat ini."Kamu dituntut hukuman dua tahun penjara, Laila!" Ungkap Desy penuh penekanan.Mendengar tuntutan yang terlontar dari bibir Desy, seketika wajah cantik Laila berubah merah padam. Cepat ia menggeleng dan menyangkal semua tuduhan itu. "Apa? Tuntutan dua tahun penjara?" Berulang kali Laila mengusap wajahnya kasar."Tidak Un! Ini tidak adil, karena saya sudah bercerai dari Very dua tahun lalu!" Elak Laila menegaskan kembali kepada Desy."Tapi kamu masih tinggal satu rumah selama itu, kan?" jawab Desy terdengar enteng.Laila mengangguk. "Ya! Itu saya lakukan demi kedua anak kami! Tapi kami sudah pisah ranjang, Uni!"Brak!Terdengar Desy menepuk meja kerjanya agar Laila tidak terus membela diri. "Kamu tidak memiliki bukti secara tertulis, Laila, dan pengaduan Very akan diproses secara hukum!""Tapi Un!" Laila memohon."Ini sudah melanggar hukum, Laila! Tetap semua akan kita proses, silahkan hubungi kuasa hukum kamu, atau hubungi suami kamu saat ini!" tegas Desy sambil berdiri untuk membawa Laila masuk ke jeruji besi.Laila semakin panik, ia tidak menyangka bahwa sore itu menjadi hari terakhirnya menghirup udara kebebasan. "Tolong Un, saya mohon karena saat ini saya masih menjadi saksi, belum menjadi tersangka!""Kami akan menunggu kedatangan Very, dan silahkan kamu ikuti saja petugas itu!" Tunjuk Desy tanpa ingin dibantah.Namun, ketika Laila akan dibawa oleh dua orang petugas kepolisian. Terdengar suara tegas dari arah belakang yang memanggil nama wanita cantik tersebut."Tunggu! Mau dibawa ke mana Laila!?""Baik Bu," jawab RindianiTanpa sepengetahuan Rindiani dan yang lain secara diam diam Echi mengerimkan pesan teks kepada Citra untuk membicarakan tentang hubungan Al dan Rindiani nanti setelah Rindiani PulangRindiani lalu duduk bersama keluarga besar Al untuk ikut makan malam bersama mereka, obrolan demi obrolan mebgalir di tengah makan malam mereka, tentu saja Echi yang paling sering menjadi sasaran ejekan karena menjadi yang paling muda si antara mereka"Oh iya nak Rindi udah punya pacar atau tunangan mungkin," tanya Dewi ibu Al"Pasti punya Mah, masak cewek secantik Rindi gak punya pacar," jawab Citra seenaknya"Hus diem kamu, mamah gak nanya sama kamu, kamu juga udah tua gak pernah punya pacar," ucap Dewi kepada Citra"Ye siapa bilang Cicit gak punya pacar," jawab Citra"Udah diem dulu kamu cit, mama ingin denger jawaban nak Rindi," ucap Dewi Lagi"Em.. Belum tante, tapi yang deket ada," ucap Rindiani"Lah kal
Saat Echi sudah sampai ia sedikit terkaget karena apartemen yang di tempati oleh temannya ini adalah milik Kakaknya Al yang saat ini sedang berada di Jakarta"Ini kan Apartemen milik kak Al ?" ucap Echi saat ia sampai di lokasi Rindiani tinggal"Sebenarnya ada hubungan apa antara Kak Al dengan Rindiani ?" lanjutnyaSetelah beberapa lama Echi menunggu di depan apartemen Rindiani, orang yang ia tunggu pun muncul dengan senyum di wajahnya"Hei Chi udah lama nunggu ?" tanya Rindiani ramah"Belum lama kok, yuk langsung berangkat," jawab Echi"Kita mau kemana lagu Chi," Tanya Rindiani"Awalnya aku ingin jalan jalan karena bosen di rumah, tapi gak jadi kita main ke rumah ku saja," jawab Echi yang berubah pikiran setelah ia tahu apartemen yang di tempati Rindiani adalah milik kakaknya"Tapi aku gak enak sama orang tuamu," ucap Rindiani"Haha..Pake enakan segala, udah kita have fun aja di rumah, orang tuaku juga welcome sama teme
"Boleh minta gak Al ?" tanya Aji"Boleh tapi besok sahammu udah zero," jawab Al cuek"Yah gak jadi deh," jawab Aji dengan muka cemberutMereka lantas tertawa karena melihat tingkah konyol Aji yang di buat buat sehingga sejenak mereka bisa melupakan masalah mereka masing masing******"Yank.. Jalan yuk," ucap Loki setelah keluar dari kelas bersama Tasya"Kemana ?" tanya Tasya"Terserah deh mau kemana ? bosen aku, uang dari tunjangan mu masih ada kan ?" ucap Loki"Ada tapi itu kan mau ku buat bayar uang semester," jawab Tasya"Alah.. Gimana sih kamu yank, tunangan mu kan kaya, kamu tinggal minta lagi aja ke dia," jawab Loki menghasut Tasya"Iya mas Aji emang kaya, tapi gak semudah itu minta duit ke dia, lagian pake alasan apa lagi ?" ucap Tasya"Ya terserah kamu lah mau pake alasan apa, aku males ikut mikir," jawab Loki seenaknya"Tapi kamu kan juga ikut ngabisin uangnya yank," kata Tasya yang mulai ke
"Mas uang adek habis, dan adek juga harus bayar uang kuliah," ucap seorang wanita yang bernama Tasya"Ini baru setengah bulan loh dek, setengah bulan yang lalu kamu udah mas kasih sepuluh juta buat keperluan kamu," jawab Aji salah satu sahabat Al yang merupakan tunangan Tasya"Tapi keperluan adek kan banyak mas, makan bayar kontrak dan lainnya, belum lagi adek harus belanja berang barang mahal agar lebih terlihat cantik," jawab tasya"Oke oke, memangnya kamu mau minta berapa ?" tanya Aji mulai tidak tahan saat tunangannya mulai rewel"Gak banyak kok, sepuluh juta lagi lalu uang kuliah sepuluh juta jadi kalau di total senja jadi dua puluh juta," jawab tasya"Oke, akan mas transfer nanti," ucap Aji"Terima kasih mas,""Udah dulu ya, Adek harus ngerjain tugas kuliah dulu," kata Tasya"Oke belajar yang rajin, jangan sampai nilai kuliah mu turun, nyonya Aji gak boleh memalukan," jawab Aji"Siap bos," ucap Tasya Lalu mematikan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan