Daster Buat Istriku
“Sengaja aku mencari alamat kalian, aku harus menjelaskan hal ini pada Bima. Izinkan aku bertemu dia, Bang! Jujur, aku sangat merindukan dia. Aku ingin memeluknya! Boleh, ya, aku bertemu dia sebentar saja. Satu jam saja aku ingin membawa dia ke restoran di dekat sini aja. Dia sepertinya kelaparan, Bang! Setiap hari bekal makannya cuma bubur nasi, begitu kata Steven. Boleh, ya, Bang!”
Perempuan itu menghiba. Wajah cantik itu teramat mendung, bahkan ada titik air bening di kedua sudut mata indahnya.
“Boleh, ya, Bang?” rengeknya berani memegangi lenganku.
“Maaf, sebenarnya, aku tidak mengenalmu! Bima bukan anakmu! Kau salah orang!” sergahku menepis kasar tangannya di lenganku.