Selir Yang Terlupakan
Di pinggirannya tertulis kalimat yang diukir dengan huruf emas — kalimat yang diucapkan seorang anak laki-laki sepuluh tahun yang lalu, di bawah matahari yang terik dan di tengah ketakutan yang nyata:
“Kita bukan Utara dan Selatan. Kita adalah satu air, satu tanah, satu hati. Dan air yang sama mengalir di dalam kita semua.”
Hujan bisa berhenti. Kemarau bisa datang dan pergi. Tapi satu hal yang tidak akan pernah kering — yaitu kasih sayang dan kepercayaan yang tumbuh di antara orang-orang yang memilih untuk berdiri bersama, bukan saling berhadapan. Dan itulah warisan terbesar yang pernah kami tinggalkan — bukan takhta, bukan kekayaan, melainkan kesadaran bahwa kita semua adalah bagian dari sa