Rasa Dari Keremajaan
"Sanksi bagi yang terlambat bukan lari keliling lapangan. Tapi tugas literasi. Baca satu artikel, rangkum dalam 100 kata. Membosankan? Ya. Tapi setidaknya otak mereka bekerja, bukan cuma otot betisnya. Kita sekolah untuk mengisi kepala, bukan membesarkan otot."
"Interupsi!" Kevin memotong, wajahnya sedikit merah. "Itu terlalu lembek! Tanpa rasa jera, siswa akan meremehkan aturan!"
"Meremehkan?" Aku menoleh padanya. "Kevin, kau Ketua Tim Tata Tertib. Coba jawab jujur. Selama setahun kau menjabat dan menerapkan hukuman lari, apakah jumlah siswa terlambat berkurang?"