Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Pendekar Tombak Matahari

Pendekar Tombak Matahari

Ningrum bersuara lirih, “jika kalian tidak kembali dalam tiga hari, aku akan menyusul, tidak peduli apa pun risikonya.” Gendon mendekati Candrika, ia memberikan sebuah kantong kecil berisi belasan pil berwarna ungu. “Ini pil Napas Kura-kura. Kalau dalam tiga hari kami nggak balik, minum ini sebelum kalian nyari kami. Tapi Gendon janji, Gendon bakal balik buat nagih panggilan ‘Mas Rendra’ dari dek Candrika.”
928.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 990 kali sebagai luka yang kurindu
Tampilkan Ulasan (25)
Baca
+Pustaka
Kebo Rawis
Ah, akhirnya menemukan salah satu mutiara terpendam GoodNovel yang bisa jadi alasan untuk mengisi ulang koin. Semoga sang penulis selalu sehat agar cerita ini lekas diselesaikan dan tidak membuat penasaran.
Rana Semitha
Regulasi GN yang baru membuat harga satu babnya menjadi 14 koin. Hal itu tidak disampaikan kepada para penulis sehingga banyak penulis yang tidak menyadari. Untuk para pembaca, bisa membaca mulai bab 65, di bab tersebut saya menulis cukup banyak kata hingga bab-bab berikutnya. Terima Kasih
Baca Semua Ulasan
Luka Sang Bidadari

Luka Sang Bidadari

sudah tidak ada lagi kebahagiaan yang terlihat dalam dirinya hanya sebuah luka yang tidak terlihat oleh pandangan mata namun dapat dirasakan sakitnya oleh Alina. "Cucu Ibu kasihan pasti dia lapar sekarang kamu makan ya sayang biar kondisi kamu mulai membaik, "ucap kembali Bu Asih mencoba membujuk putrinya itu. Namun, Alina hanya tetap diam dengan tatapan kosong yang seolah tidak ada lagi harapan dia untuk menjalani kehidupan ini. Air matanya kembali menetes, namun tidak ada sepatah kata pun yang Alina ucapkan.
1010.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 366 kali sebagai luka yang kurindu
Baca
+Pustaka
Luka Yang Tak Pernah Selesai

Luka Yang Tak Pernah Selesai

Ada sesuatu di sana yang sulit dijelaskan — bukan sekadar cinta, tapi juga luka, rindu, dan penyesalan yang tak selesai. “Duduk,” ucap Raka datar. Tangannya terlipat di depan dada, tapi sorot matanya tak benar-benar bisa berbohong. Ada amarah yang disembunyikan, dan juga kerinduan yang ingin diteriakkan. Nira menuruti, duduk di kursi seberang. Jarak mereka tak lebih dari dua meter, tapi terasa seperti jurang yang tak bisa diseberangi.
101.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 37 kali sebagai luka yang kurindu
Baca
+Pustaka
Luka Yang Sisa Kenangan

Luka Yang Sisa Kenangan

panggil Luna dengan lemah, tenggorokannya kering dan sakit. Pria itu menoleh. Tatapan yang dulu lembut, sekarang hanya tersisa dingin yang menusuk. “Sudah bangun?” “Kok aku di sini?” Luna mau duduk, tapi badannya benar-benar lemas tak bertenaga. Rocky tidak menjawab, hanya berbicara santai, “Kemarin aku mau jemput kamu, tapi pameran lukisan Paula tiba-tiba kebakaran, semua lukisannya habis nggak bersisa.”
6.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 238 kali sebagai luka yang kurindu
Baca
+Pustaka
Tuan Dingin & Nyonya Luka

Tuan Dingin & Nyonya Luka

Meja kayu sederhana di depan mereka penuh sesak dengan tumpukan kertas sketsa, laptop yang masih menyala, serta segelas air hangat yang kini tinggal separuh. Jifanya menunduk, kedua tangannya melingkar erat di perut yang mulai membesar. Raut wajahnya pucat, bibirnya kering, tubuhnya gemetar. Rasa perih mengiris lambungnya, membuatnya nyaris tak mampu menahan air mata.
1.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 48 kali sebagai luka yang kurindu
Baca
+Pustaka
Gelora Hasrat Kakak Ipar

Gelora Hasrat Kakak Ipar

"Kata Bik Ari kau sakit, Belinda. Kau mau ke dokter saja?" Luca melakukan video call dengan Belinda siang itu karena Bik Ari mengirim pesan pada Luca tentang Belinda yang muntah. "Aku baik-baik saja, Luca. Aku tidak menyangka Bik Ari akan melapor padamu tentang aku muntah."
10289.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 9.6K kali sebagai luka yang kurindu
Baca
+Pustaka
Rindu yang Terluka

Rindu yang Terluka

Dia candu dengan aromanya. Denyar luka, rasa rindu, rasa kecewa, kepercayaan yang mulai terbangun dan kini sedang terkoyak serasa memenuhi dada. Dikala dirinya hendak bangkit untuk meneruskan rumah tangga dengan Daffa, ada saja kerikil yang menjadi sandungannya. "Rin, kamu tidak kangen sama mas?" tanya Daffa seraya menyelipkan rambut ke belakang telinga. Mengelus pipi dan mengecupnya.
9.9191.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 4.4K kali sebagai luka yang kurindu
Baca
+Pustaka
Sekuntum Rindu

Sekuntum Rindu

Banyak orang berlalu lalang dibawah sana, beragam gelagat bisa dilihat dan diperhatikan. Kebanyakan, remaja yang tengah asyik nongkrong. Dahulu, itu adalah bahan yang menjadi bahan tulisannya. Tapi sekarang? Dia menghela nafas, cukup dalam. 'Aku nggak boleh kalah, tidak untuk saat ini. Aku harus menang dalam perjuangan kali ini', batinnya lirih. Lalu disesapnya es tebu dihadapannya. "Makanlah Nay, kau ini makhluk hidup. Buat dirimu berharga". Luah Rena sambil memasukkan ayam goreng ke dalam mulutnya yang dihiasi lipstik berwarna merah jambu. Sejak dulu, Luna's cafe menjadi tempat favorit mereka sejak masih kuliah. Selain harga makanan yang ditawarkan relatif terjangkau, suasana disana sunggu
102.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 92 kali sebagai luka yang kurindu
Baca
+Pustaka
KAKAK, I LOVE YOU

KAKAK, I LOVE YOU

jawab Arya sambil menyalakan laptop. Arinda mengangkat kedua bahunya. Arya benar-benar aneh hari ini, mungkin akibat sakit perut? Jadi ia hanya disuruh duduk saja di sini tanpa melakukan apapun. Ia malas menyalakan televisi karena tidak ada acara yang bagus. Akhirnya ia memilih untuk hanya duduk sambil memperhatikan Arya yang sedang sibuk dengan laptop. Di layar laptop tertera angka-angka dan huruf-huruf dengan latar belakang hitam. Arinda sama sekali tak tertarik, ia memutuskan bermain Pou di ponselnya sambil ngemil kue sus kering yang ada di dalam toples. Satu per satu kue berisi coklat itu ia ambil dari toples lalu memakannya hingga tak terasa hanya tersisa lima buah kue di dalam toples.
1011.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 391 kali sebagai luka yang kurindu
Baca
+Pustaka
Dosen Kampret itu, Suamiku!!

Dosen Kampret itu, Suamiku!!

“Mau aku kupasin jeruk lagi?” Kamarudin meringis. Diantara semua buah, jeruk-lah yang bisa dirinya cerna. Namun akhir-akhir ini, ia merasakan perih pada lambungnya. Jika diteruskan, sepertinya ia akan meninggal cepat. “Makasih, Babe. Cukup.” Istrinya terlalu cantik dan anak-anaknya sangat menggemaskan untuk ditinggalkan. Kamarudin tidak rela mereka hidup tanpa penjagaannya.
1097.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.5K kali sebagai luka yang kurindu
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status