Sketsa Hujan
Ia bercerita tentang pameran seni yang ia kunjungi, tentang kucing liar di depan galeri yang ia beri nama 'Rimbun'—sebuah penghormatan kecil untuk jurusan Kehutanan Elang—dan tentu saja, ia terus mengisi buku linen abu-abu itu.
Halaman-halaman awal buku itu penuh dengan detail hujan. Rintik yang jatuh di kaca jendela kantor, genangan air di trotoar Sudirman, hingga bayangan payung-payung warna-warni di halte busway. Hitam dan putih, seperti permintaan Elang.
Aksara sengaja menyisakan ruang kosong di setiap sudut sketsanya, seolah-olah ruang itu adalah tempat duduk yang ia sediakan untuk Elang saat pria itu pulang nanti.