Istana Yang Ternoda
desis Bu Ria dengan suara rendah, tajam, seperti ular berbisa.
Kania menghentikan langkahnya. Bahunya sedikit bergeming, tapi ia menoleh. Senyum tipis, sinis, menghiasi wajahnya—senyum yang tak lagi penuh luka, tapi seperti perisai dingin.
“Anakmu sendiri yang ingin kuperbudak,” bisik Kania, suaranya pelan, datar, tapi menggigit.
Wajah Bu Ria memerah, matanya membulat oleh kemarahan. Mulutnya nyaris terbuka untuk membalas, tapi langkah kaki Rafasya yang mendekat membuatnya langsung menahan lidah.
Hot Chapters