Telanjur Khilaf
Dia hanya mengangguk-angguk dengan gerakan bibir menyamping beberapa kali, “Harus kumulai dari mana?”
“Apa pun, asal kamu bahagia.”
“Oke, dengarkan baik-baik. Aku tak akan menarik setiap kata-kata yang keluar dari mulutku,” ujarnya memulai pembicaraan serius, “Sebenarnya ada banyak hal tentang kita yang harus dibahas, tetapi aku akan ambil alasan paling sederhana. Kita seharusnya bercerai sejak kamu ketahuan memiliki naluri binatang, karena manusia hanya diciptakan berpasangan dengan pemilik naluri serupa. Bukan makhluk jadi-jadian macam kamu. Maaf, aku terlambat mengatakannya. Namun, masa bodohku sudah usai. Silakan pergi dan sampai bertemu lagi di sidang perceraian.”
Bab Populer