Air Mata di Antara Bunga
Jika beruntung, aku bisa melihat aurora di sini.
Saat kakiku menapaki salju yang tebal dan lembut, hembusan angin dingin menusuk tulang. Namun entah kenapa, senyum justru terbit di wajahku.
Akhirnya, semua kenangan lama di Praya benar-benar bisa kutinggalkan.
Aku teringat, dulu pernah bilang pada Rangga kalau aku ingin melihat aurora.
Dia menjawab dengan enteng, seolah janji itu mudah ditepati.