Diary Sang Kupu Kupu Malam
“Bukan masalah nasi sudah menjadi bubur atau memang tak bersyukur. Ini tentang nasib, yang memang harus aku pertahankan. Setelah sekian lama lelah pasrah begitu saja, pasrah pada sang pencipta yang memang belum memlmmnjberiku jalan. Tapi, pertolongannya tak kunjung jua datang. Hingga terpaksa harus aku lakukan kalau mau bertahan di sudut ibu kota yang memang kera kehidupannya.”
Aku kembali menarik selimut tebal itu di atas kasur. Mencoba untuk memejamkan mata gara dapat kembali bangun nanti malam, tetapi aku coba tetap saja tak bisa. Entah kenapa sore itu mataku seakan enggan terpejam, apa mungkin karena tadi siang sudah tidur setelah lelah seharian berangkut pindah ke kontrakanku yang baru