Menyusui Bayi Dokter Tampan
"Tapi omonganku benar, kan? Kalau cuman buat melayani kebutuhan biologis doang, pelacur juga bisa. Tapi... kita cari istri, pendamping yang akan menemani kita seumur hidup, jadi mestinya harus punya visi dan misi yang sama, nggak cukup cinta, Sayang."
"Iya Sayang." Aku balas meledek. Gemes juga akhirnya, karena pria yang dingin ini memanggilku Sayang. Terbayang di otakku bagaimana mas Aariz memaksakan diri untuk kembali menerima Gibran dan Anindita, dan mungkin juga sedikit memaksakan diri untuk bersikap hangat kepadaku.
Apa ini dia lakukan sebagai baktinya kepada sang ibu, seperti omongannya tempo hari saat melamarku?