Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Kenikmatan Satu Malam

Kenikmatan Satu Malam

Beberapa kali Saena membanting dan memukulkan kedua kakinya di sofa. “Apakah dia ingin membuatku seharian seperti ini? Aku bosan sekali. Sepertinya sudah waktunya pulang ke rumah.” Saena menatap jam di dinding ruangan. Waktu berlalu begitu lambat, ternyata jam di sana masih menunjukkan pukul tiga sore. Jam pulang adalah pukul empat. Masih tersisa satu jam lagi.
1.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 40 kali sebagai menikungmu di sepertiga malam
Baca
+Pustaka
Dinikahi Putra Kiai

Dinikahi Putra Kiai

Ku adukan semua rasa yang kurasakan tanpa tersisa dalam bayang-bayang sebuah kejenuhan, hati ini lapang dengan perasaan penuh kesiapan menyikapi setiap lika-liku kehidupan yang mencekam. Sepertiga malam, adalah wadah di mana waktu yang tepat saat kita hendak berkeluh kesah. Dan tak ada yang lebih setia selain waktu sepertiga malam yang selalu menunggu kita kapanpun kita hendak datang. Bersimpuh, bersujud dan memohon pertolongan.
4.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 146 kali sebagai menikungmu di sepertiga malam
Baca
+Pustaka
Tetanggaku Kesakitan Tiap Malam

Tetanggaku Kesakitan Tiap Malam

"Kita ke kamar Zifa atau mau kemana, nih?" "Kamar Zifa? Gak usahlah." Aku menggelengkan kepala. Tengah malam begini, ke kamar Zifa? Ah, itu ide yang buruk. Aku menyenderkan punggung ke dinding, mengusap peluh. Putri berdecak, dia tampak sibuk sendiri. Aku hanya meliriknya sekilas. Terserah dia saja. Semoga kami cepat pulang ke rumah. Aku tidak mau lama-lama di sini. Memang, sih, aku ingin menyelidiki soal Zifa, tapi tidak jam segini.
1017.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 583 kali sebagai menikungmu di sepertiga malam
Baca
+Pustaka
Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku

Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku

Valerie tertidur bersandar dinding lorong, tepat di depan pintu unit apartemennya. Mantel cokelat membungkus tubuhnya yang meringkuk, namun tak cukup menahan dingin malam Chicago yang merayap sampai ke tulang. Telapak tangannya pucat, napasnya tipis, dan bulu mata lentiknya bergetar samar seolah ia terjebak di antara sadar dan tidak.
101.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 39 kali sebagai menikungmu di sepertiga malam
Baca
+Pustaka
Istri yang Tak Diinginkan

Istri yang Tak Diinginkan

bisiknya, “pasti pegal-pegal dan nggak nyaman ya?” “Iya!” Kimberly mengangguk dan merengut. “Tega banget, sih. Mana dingin, lagi. Pernah waktu tengah malam aku kebangun, terus takut tiba-tiba ada hantu dari kolong meja. Sepi banget sih rumah kamu, mana pas mau nyalain TV remote-nya nggak ada, nggak tahu di mana,” cerocos Kimberly dengan bibir yang masih merengut tanpa melepaskan tangannya dari leher Malik.
9.61.4M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 41.6K kali sebagai menikungmu di sepertiga malam
Tampilkan Ulasan (156)
Baca
+Pustaka
Ami Lee
kamu aja kali cher yg gak nyaman di rumah sendiri..feli sama anak kamu bahagia koq..iblis mah selalu panas klo ada ditempat sejuk damai..panas hati nya lihat kedamaian ketentraman karna dia gak bisa merasakan itu kecuali dia berada di tempat iblis juga..ya kyx ditempat ratu hatinya kamu itu archee...
Katrina Citra
cerita paling best dari yg ter the best gilaaaaak aku tenggelam banget di kisah Archer Feli sampe2 pgn bgt mereka ada d dunia nyata......... kak oca semua karya mu ga ada yg gagal,semua dah ku baca,tp yg paling mau dan selalu di ulang2 per bab sampe khatam kek ny klo cerita in ulang ya ArcFel ini🫰...
Baca Semua Ulasan
RINDU SETELAH BERCERAI

RINDU SETELAH BERCERAI

"Semoga malam bergerak cepat digantikan pagi agar aku bisa pulang." Aku memang masih sakit namun sekamar dengan mereka berdua malah akan membuat diriku tambah sakit. Sebaiknya aku pulang saja. * Pukul tiga malam, ketika malam sedang dipuncak dinginnya cuaca, kulihat Mas Fendi sudah tidur di sebuah ranjang kosong yang ada di sisi istrinya sementara sang istri juga pulas di balik selimut yang hangat.
8.519.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 745 kali sebagai menikungmu di sepertiga malam
Baca
+Pustaka
Dinodai adiknya, dinikahi kakaknya

Dinodai adiknya, dinikahi kakaknya

Bab — Malam Penuh Ketegangan Malam itu datang dengan tenang, seolah langit sedang menjaga sebuah rahasia besar yang belum terungkap. Bulan menggantung redup, separuh wajahnya tertutup awan tipis yang berarak pelan. Di rumah kecil Sadewa dan Alika, lampu ruang tamu sudah dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari kamar utama. Suara jam dinding berdetak pelan, seperti menghitung waktu yang semakin mendekat ke sebuah momen yang ditunggu-tunggu namun juga mencemaskan.
9.313.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 403 kali sebagai menikungmu di sepertiga malam
Baca
+Pustaka
SELUMBARI

SELUMBARI

Aku menggeleng. “Aku tidak sebaik itu.” *** Malam datang lagi—sama seperti sebelum-sebelumnya, menelan sisa-sisa cahaya senja di ufuk Barat. Kali ini langit tampak sendu, tidak ada satu pun bintang berkelip yang muncul. Bulan juga tidak menunjukkan sinarnya, sehingga langit sangat gelap, bukannya biru dongker. Angin malam bergerak cepat dan menyebarkan hawa dingin. Walau jendela di seluruh ruangan terkunci rapat dan tertutup gorden, hawa dingin masih terasa.
101.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 49 kali sebagai menikungmu di sepertiga malam
Baca
+Pustaka
MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN

MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN

Ingatan samar di malam penuh badai tiga tahun yang lalau seketika menerjang deras. Bau alkohol, suara hujan deras menghantam jendela. Liam terbangun tanpa sehelai pakaian, kepalanya berdenyut hebat. Sofa galeri berantakan. Tubuhnya lengket dengan keringat, namun tak ada siapa pun di ruangan itu. Hanya sepi dan kekosongan. Malam yang selalu ia pikir hanya mimpi gila. “Tidak…” Liam menggumam. Tangannya gemetar. “Tidak mungkin… itu kau?”
1022.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 463 kali sebagai menikungmu di sepertiga malam
Baca
+Pustaka
Malam Saat Aku Terjepit di Pagar

Malam Saat Aku Terjepit di Pagar

Aku menggigit bibir sambil berjongkok, memunguti pecahan keramik satu per satu sampai tanpa sengaja melukai jariku. Melihat itu, suamiku bukan merasa iba, justru mendengus sinis. "Hmph, rasakan itu." Aku berdiri dalam diam, lalu membuang pecahan mangkuk itu ke dalam tempat sampah. Menatap kekacauan di lantai, rasa bersalah pun menyelimutiku. Seolah semua ini terjadi karena ketidakpantasan diriku sendiri.
3.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 82 kali sebagai menikungmu di sepertiga malam
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
34567
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status