DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU
Aku menoleh, menatap Papa yang masih menatapku dengan sorot mata penuh pemahaman.
"Jangan buat keputusan karena dendam atau karena rasa bersalah. Buat keputusan karena itu yang benar-benar kamu inginkan," katanya pelan.
Aku tidak menjawab.
Saat ini, aku bahkan tidak tahu apa yang benar-benar kuinginkan. Tapi sisi lain dalam diriku tiba-tiba muncul dan seakan berbisik mengenai apa yang harus aku putuskan.