Kebahagiaan Menanti
Aku muak dengan kelicikan Jihan, jadi aku menyela dia.
Jihan menangis sejadi-jadinya.
Namun, aku menutup telepon. Jihan sudah tidak berani menghubungiku lagi.
Zayn tidak menyerah, dia masih menghubungiku, padahal aku sudah menjelaskan.
Akhirnya, Zayn datang ke rumahku sambil membawa apel.
"Bu, maafkan aku dan nggak kuulangi lagi. Apa belum cukup? Mana ada ibu dan anak putus hubungan? Cucumu sangat merindukanmu. Kapan ibu bisa mengunjunginya?"